Sunday, April 21, 2019

RATNA DEWI SOEKARNO: SAKURA DI TENGAH PRAHARA KARYA M. YUANDA ZARA (POJOK REVIEW)



Ratna Sari Dewi adalah sosok wanita yang sudah lama ingin aku baca bagaimana kisah hidupnya. Awalnya aku hanya kagum  ketika melihat satu foto yang menunjukkan kecantikan seorang gadis berkebaya. Kecantikannya saat itu adalah gaya kecantikan masa kini. Aku tidak percaya foto hitam putih itu diambil pada saat tahun 1960-an. Dalam satu masa, pastinya ada penanda mode yang kelihatan sangat kentara, tapi sosok kecantikannya adalah sosok kecantikan masa kini. 


Awalnya aku tidak tahu sosok gadis itu adalah salah satu istri Bapak Soekarno. Ketika semakin kucari, ternyata dia adalah bagian dari kehidupan Sang Proklamator. Satu dari 9 wanita yang menghiasi hidup Bapak Negara. Munculah banyak sekali pertanyaan seperti, di umur berapa Bapak menikahi gadis ini? Bagaimana riwayat hidupnya? Bagaimana perjumpaannya? Dan masih banyak lagi. Di internet, sosok ini tidak terlalu tertulis dengan jelas bagaimana kisah hidupnya. Teringat dulu, aku pernah mendengar kasus tentang salah satu istri Soekarno yang menerbitkan buku yang cukup menuai kontoversi berjudul “Madame de Syuga” .  Aku tidak ingin membahas tentang kontroversi buku ini, mungkin kalian sudah tahu atau silakan cari tahu dengan membaca buku ini.


Buku ini adalah karya M. Yuanda Zara, seorang penulis yang sudah melalang buana dari Majalah Annida sampai Kompas. Tebal halamannya sekitar 243 halaman (belum termasuk daftar isi, indeks, dsb), dengan sampul yang cukup memesona. Ya, itu adalah foto Ibu Ratna Sari Dewi dengan pose favoritku, yaitu saat beliau menyentuhkan tangannya ke telinga sembari tersenyum. Sepertinya beliau sedang menyelipkan beberapa helai rambutnya ke atas telinga. Sungguh anggun. Aku sebagai wanitapun terpesona.


Dalam buku ini diceritakan dengan detail bagaimana kehidupan awalnya hingga apa yang Beliau lakukan di hari tua. Kuakui, penulis benar-benar berusaha dengan maksimal untuk menulis sosok yang satu ini. Itu terbukti dengan banyaknya sumber-sumber yang digunakan demi menggambarkan keakuratan cerita. Tidak mudah mengumpulkan sumber-sumber sebanyak itu. Aku benar-benar mengapresiasi usaha maksimal dari sang penulis.


Kisah dimulai dari asal-usul Ibu Ratna Sari Dewi yang memiliki nama asli Naoko Nemoto. Beliau berasal dari Jepang dan hidup dalam keterbatasan dan kesemrawutan yang mambuatnya berhadapan dengan hal-hal yang seharusnya tidak dihadapi anak seusianya. Beliau dewasa karena tuntutan hidup. Satu kata yang merefleksikan yaitu “berani". Periode remajanya diwarnai dengan dunia gemerlap malam. Semua berawal dari keputusan beliau melepaskan bangku sekolah. Beliau menjadi host termuda di Jepang. Ya, gambaran banyaknya klub-klub malam di Jepang sama persis dengan apa yang kubaca di komik.


Selain cantik, rupanya beliau juga pandai menjalin relasi. Karena kepiawaiannya, beliau menjadi host yang terkenal di salah satu klub yang juga paling terkenal di Jepang. Di titik inilah, ibu Ratna dan pak Soekarno bertemu. Seorang Ratna yang saat itu berusia belasan, sedangkan Soekarno berusia katakanlah "menjelang senja". Ibu Ratna adalah wanita kesekian di kehidupan Soekarno. Bermacam-macam versi, tetapi beberapa dari sumber ini menyebut bahwa beliau merupakan Istri ke-6.


Satu alasan yang membuat Ratna muda jatuh cinta pada Pak Soekarno: keromantisan. Ya, bahkan Soekarno berpesan dengan kata-kata indah yang kurang lebihnya "kuburkanlah aku di bawah pohon rindang, kuburkan aku dengan isteriku Ratna, karena ia yang kucintai". Dari kata-kata tersebut, posisi Ibu Ratna begitu sangat spesial di hati Pak Soekarno.


Banyak sekali sisi-sisi peristiwa sejarah yang muncul di biiografi tersebut. Diantaranya yaitu peristiwa G30SPKI, masa-masa orde lama dan baru, hingga yang terakhir yaitu kepergian Pak Soekarno. Di akhir kehidupan Bapak Proklamator, Ibu Ratna meyakini tentang "pembunuhan yang direncana" yang dilakukan elit-elit orde baru.


Terakhir, di masa tua Beliau, Ibu Ratna masih menyandang nama pemberian dari suaminya. Beliau masih aktif di berbagai kegiatan, berkumpul dan melakukan amal dengan orang-orang dengan kalangan atas. Beliau di umur senjanya tetap menawan dan anggun. Overall, dari bahasa penulisannya, menurutku penulis menempatkan Ibu Ratna sebagai wanita elit dan pembuat masalah. Sisi-sisi yang tersembunyi di balik senyum dan wajah ayunya.






No comments:

Post a Comment

GRAMMAR GAUL SESSION 3: JADWAL YANG UDAH PASTI (PESAWAT, KERETA API, BIOSKOP, KELAS)

Hi, i'm back! oke sekarang kita bakal bahas materi lain dari buku kak Yusup. Untuk materi yang lainnya kalian bisa cek di postingan se...