Ratna Sari Dewi adalah sosok wanita yang sudah lama ingin
aku baca bagaimana kisah hidupnya. Awalnya aku hanya kagum ketika melihat satu foto yang menunjukkan
kecantikan seorang gadis berkebaya. Kecantikannya saat itu adalah gaya
kecantikan masa kini. Aku tidak percaya foto hitam putih itu diambil pada saat
tahun 1960-an. Dalam satu masa, pastinya ada penanda mode yang kelihatan sangat
kentara, tapi sosok kecantikannya adalah sosok kecantikan masa kini.
Awalnya aku
tidak tahu sosok gadis itu adalah salah satu istri Bapak Soekarno. Ketika
semakin kucari, ternyata dia adalah bagian dari kehidupan Sang Proklamator.
Satu dari 9 wanita yang menghiasi hidup Bapak Negara. Munculah banyak sekali
pertanyaan seperti, di umur berapa Bapak menikahi gadis ini? Bagaimana riwayat
hidupnya? Bagaimana perjumpaannya? Dan masih banyak lagi. Di internet, sosok
ini tidak terlalu tertulis dengan jelas bagaimana kisah hidupnya. Teringat
dulu, aku pernah mendengar kasus tentang salah satu istri Soekarno yang
menerbitkan buku yang cukup menuai kontoversi berjudul “Madame de Syuga” . Aku tidak
ingin membahas tentang kontroversi buku ini, mungkin kalian sudah tahu atau
silakan cari tahu dengan membaca buku ini.
Buku ini adalah karya M. Yuanda Zara, seorang penulis yang
sudah melalang buana dari Majalah Annida
sampai Kompas. Tebal halamannya
sekitar 243 halaman (belum termasuk daftar isi, indeks, dsb), dengan sampul
yang cukup memesona. Ya, itu adalah foto Ibu Ratna Sari Dewi dengan pose
favoritku, yaitu saat beliau menyentuhkan tangannya ke telinga sembari
tersenyum. Sepertinya beliau sedang menyelipkan beberapa helai rambutnya ke
atas telinga. Sungguh anggun. Aku sebagai wanitapun terpesona.
Dalam buku ini diceritakan dengan detail bagaimana kehidupan
awalnya hingga apa yang Beliau lakukan di hari tua. Kuakui, penulis benar-benar
berusaha dengan maksimal untuk menulis sosok yang satu ini. Itu terbukti dengan
banyaknya sumber-sumber yang digunakan demi menggambarkan keakuratan cerita.
Tidak mudah mengumpulkan sumber-sumber sebanyak itu. Aku benar-benar
mengapresiasi usaha maksimal dari sang penulis.
Kisah dimulai dari asal-usul Ibu Ratna Sari Dewi yang memiliki
nama asli Naoko Nemoto. Beliau berasal dari Jepang dan hidup dalam keterbatasan
dan kesemrawutan yang mambuatnya berhadapan dengan hal-hal yang seharusnya tidak
dihadapi anak seusianya. Beliau dewasa karena tuntutan hidup. Satu kata yang
merefleksikan yaitu “berani". Periode remajanya diwarnai dengan dunia gemerlap malam. Semua berawal dari keputusan beliau melepaskan bangku sekolah. Beliau menjadi host termuda di Jepang. Ya, gambaran banyaknya klub-klub malam di Jepang sama persis dengan apa yang kubaca di komik.
Selain cantik, rupanya beliau juga pandai menjalin relasi. Karena kepiawaiannya, beliau menjadi host yang terkenal di salah satu klub yang juga paling terkenal di Jepang. Di titik inilah, ibu Ratna dan pak Soekarno bertemu. Seorang Ratna yang saat itu berusia belasan, sedangkan Soekarno berusia katakanlah "menjelang senja". Ibu Ratna adalah wanita kesekian di kehidupan Soekarno. Bermacam-macam versi, tetapi beberapa dari sumber ini menyebut bahwa beliau merupakan Istri ke-6.
Satu alasan yang membuat Ratna muda jatuh cinta pada Pak Soekarno: keromantisan. Ya, bahkan Soekarno berpesan dengan kata-kata indah yang kurang lebihnya "kuburkanlah aku di bawah pohon rindang, kuburkan aku dengan isteriku Ratna, karena ia yang kucintai". Dari kata-kata tersebut, posisi Ibu Ratna begitu sangat spesial di hati Pak Soekarno.
Banyak sekali sisi-sisi peristiwa sejarah yang muncul di biiografi tersebut. Diantaranya yaitu peristiwa G30SPKI, masa-masa orde lama dan baru, hingga yang terakhir yaitu kepergian Pak Soekarno. Di akhir kehidupan Bapak Proklamator, Ibu Ratna meyakini tentang "pembunuhan yang direncana" yang dilakukan elit-elit orde baru.
Terakhir, di masa tua Beliau, Ibu Ratna masih menyandang nama pemberian dari suaminya. Beliau masih aktif di berbagai kegiatan, berkumpul dan melakukan amal dengan orang-orang dengan kalangan atas. Beliau di umur senjanya tetap menawan dan anggun. Overall, dari bahasa penulisannya, menurutku penulis menempatkan Ibu Ratna sebagai wanita elit dan pembuat masalah. Sisi-sisi yang tersembunyi di balik senyum dan wajah ayunya.
Selain cantik, rupanya beliau juga pandai menjalin relasi. Karena kepiawaiannya, beliau menjadi host yang terkenal di salah satu klub yang juga paling terkenal di Jepang. Di titik inilah, ibu Ratna dan pak Soekarno bertemu. Seorang Ratna yang saat itu berusia belasan, sedangkan Soekarno berusia katakanlah "menjelang senja". Ibu Ratna adalah wanita kesekian di kehidupan Soekarno. Bermacam-macam versi, tetapi beberapa dari sumber ini menyebut bahwa beliau merupakan Istri ke-6.
Satu alasan yang membuat Ratna muda jatuh cinta pada Pak Soekarno: keromantisan. Ya, bahkan Soekarno berpesan dengan kata-kata indah yang kurang lebihnya "kuburkanlah aku di bawah pohon rindang, kuburkan aku dengan isteriku Ratna, karena ia yang kucintai". Dari kata-kata tersebut, posisi Ibu Ratna begitu sangat spesial di hati Pak Soekarno.
Banyak sekali sisi-sisi peristiwa sejarah yang muncul di biiografi tersebut. Diantaranya yaitu peristiwa G30SPKI, masa-masa orde lama dan baru, hingga yang terakhir yaitu kepergian Pak Soekarno. Di akhir kehidupan Bapak Proklamator, Ibu Ratna meyakini tentang "pembunuhan yang direncana" yang dilakukan elit-elit orde baru.
Terakhir, di masa tua Beliau, Ibu Ratna masih menyandang nama pemberian dari suaminya. Beliau masih aktif di berbagai kegiatan, berkumpul dan melakukan amal dengan orang-orang dengan kalangan atas. Beliau di umur senjanya tetap menawan dan anggun. Overall, dari bahasa penulisannya, menurutku penulis menempatkan Ibu Ratna sebagai wanita elit dan pembuat masalah. Sisi-sisi yang tersembunyi di balik senyum dan wajah ayunya.
No comments:
Post a Comment